Minggu, 22 Mei 2016

Sejarah Dan Dinamika Stain Pekalongan

STAIN Pekalongan lahir dan berdiri pada tahun 1997. Kelahirannya merupakan bentuk penataan dan pengembangan dari Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo di Pekalongan. Fakultas Syari’ah Pekalongan semula berasal dari Fakultas Syari’ah Bumiayu yang berdiri pada tahun 1968, tetapi kemudian dinegrikan pada tahun 1970 dan menjadi salah satu fakultas cabang dari IAIN Walisongo Semarang. Pada tahun 1973, IAIN Walisongo cabang Bumiayu dipindah ke Pekalongan, karena ada kebijakan “rasionalisasi fakultas-fakultas cabang” dari pemerintah pusat, dengan pertimbangan agar lebih prospektif bagi pengembangan dan kemajuan sebuah fakultas pada masa mendatang.
   Persiapan kepindahan dari Bumiayu ke Pekalongan telah di rintis sejak awal tahun 1972. Usaha ini berhasil dengan keluarnya SK Rektor IAIN Walisongo Semarang No. 11 tahun 1972, tanggal 31 Desember 1972. Setelah persiapan dianggap cukup, upacara peresmian dilakukan pada tanggal 9 Februari 1973, di Gedung PPIP, Jl. Dr. Wahidin 102 Pekalongan. Peresmian penyerahan kepada masyarakat Pekalongan dilakukan oleh Rektor IAIN Walisongo Semarang, Prof. Tengku H. Ismail Ya’kub SH, MA dengan dihadiri oleh Pembantu Gubernur (Residen) Pekalongan, jajaran Pemerintah Daerah dan Kantor Departemen Agama Kotamadya Pekalongan, serta beberapa tokoh masyarakat Pekalongan. Di antara tokoh yang hadir serta memberi dukungan atas penempatan dan kepindahan tersebut adalah H.A. Djunaidi (pengusaha dan Dirut Primatexo-GKBI), KH. Syafi’i A. Madjid (ulama-Ketua KPB-Buaran), KHM. Sahlan (Kakandepag Pekalongan), HA. Muis Syamas dan HA. Kurdi.
   Kepindahan lembaga tersebut secara lengkap meliputi personil dan mahasiswa serta beberapa sarana yang dimiliki, seperti meubelair dan perpustakaan yang masih sangat sederhana. Personil yang ikut pindah dan kemudian menetap di Pekalongan adalah Drs. Moh. Amir Thoha, Drs. Masykuri, Drs. Dadang Sudarna, Drs. Iskandar Qomad, Drs. Rozikin, A. Bushoiri, BA, dan Abu Dawud BA. Sedang mahasiswa yang mengikuti pindah sebanyak 22 orang. Adapun sarana yang dimiliki baru 9 set meja-kursi, dua buah almari perpustakaan beserta buku yang jumlahnya kurang lebih 2500 exemplar, dan satu lapangan tenis meja. 
2.    Fakultas Syariah IAIN Walisongo di Pekalongan (1973-1992)
   Kegiatan perkuliahan pertama kali dimulai pada bulan Maret 1973, dan berlangsung pada sore hingga malam hari, di dua tempat: (1) di gedung SMA Hasyim Asy’ari, Jl. Dr. Wahidin 104 Pekalongan (dari 1973 s.d 1984), dan bersama SP IAIN (2) di gedung Yayasan Mashitoh (NU), Jl. Dr. Cipto 27 Pekalongan (dari 1973 s.d 1976), dengan 4 orang dosen tetap yang dibantu oleh beberapa dosen honorer, dan 2 orang tenaga administrasi yang dibantu oleh 2 orang pegawai honorer.
   Sebagai fakultas muda, Fakultas Syari’ah Pekalongan menyelenggarakan program sampai tingkat Baccaloreat (sarjana muda). Dalam perkembanganya, fakultas ini, berdasarkan SK Menteri Agama No. 65 tahun 1982, mengalami perubahan status, dari fakultas muda menjadi fakultas madya, yang diberi wewenang menyelenggarakan program sampai dengan tingkat V (sarjana lengkap atau S.1). Dengan demikian, Fakultas Syari’ah Cabang Pekalongan, sejak tahun 1983/1984, statusnya berubah, tidak lagi menjadi fakultas cabang, tetapi menjadi bagian dari salah satu fakultas yang sama dengan fakultas-fakultas lain di IAIN Walisongo Semarang, sehingga kedudukanya makin kuat. Sejak perubahan status tersebut, Fakultas Syari’ah Cabang Pekalongan berubah nama menjadi Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo di Pekalongan, dan mulai menunjukkan perkembangan menggembirakan yang ditandai oleh makin meningkatnya jumlah mahasiswa.
   Pada tahun 1984, penyelenggaraan perkuliahan mulai menggunakan kampus milik sendiri di Jl. Kusuma Bangsa No. 9 Pekalongan. Pada tahun 1984 sampai 1988, dibangun gedung untuk enam lokal ruang kuliah (luas 480 m2), gedung kantor (150 m2) dan gedung administrasi/perpustakaan (240 m2) serta gedung serba guna hasil swadaya dan bantuan pemerintah daerah (150 m2). Sejalan dengan itu, jumlah mahasiswa juga mengalami peningkatan, yang rata-rata per tahun bertambah antara 125-150 mahasiswa, sehingga pada tahun 1992 jumlahnya mencapai 757 mahasiswa.
   Kedudukan Fakultas Syari’ah di Pekalongan makin kuat setelah dikeluarkannya Keputusan Presiden No. 9 tahun 1987 tentang IAIN, yang menyebutkan keberadaan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo di Pekalongan. Namun keadaan fakultas ini mengalami kegamangan setelah ada kebijakan relokasi ke Surakarta pada awal tahun 1990-an. Kebijakan ini membawa pengaruh bagi Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Pekalongan, sehingga perjalanannya menjadi labil, dan menimbulkan suatu krisis yang tidak menentu sampai dengan kelahiran STAIN Pekalongan pada tahun 1997.
3.    Fakultas Syariah IAIN Walisongo Pekalongan di Era Transisi (1992-1997)
   Pada awal tahun 1990-an, Menteri Agama (waktu itu Munawir Syadzali), ingin mendirikan “IAIN Unggulan” di Surakarta. Karena ada hambatan, maka pada tahun 1992, prosedur pembentukannya dilakukan dengan merelokasi dua fakultas milik IAIN Walisongo Semarang yang ada di daerah, yaitu Fakultas Syari’ah IAIN Pekalongan dan Fakultas Ushuluddin IAIN Kudus, sebagai cikal bakalnya. Dengan relokasi tersebut, maka kegiatan-kegiatan Fakultas Syari’ah Pekalongan mengalami  berbagai keterbatasan, antara lain:
  1. Tidak boleh lagi menerima mahasiswa baru sejak tahun akademik 1992/1993, karena penerimaan mahasiswa baru dialihkan ke Surakarta.
  2. Masih harus mengelola dan melayani kegiatan belajar mengajar sampai dengan studi mahasiswa yang ada di Pekalongan selesai.
  3. Masih harus membantu pelaksanaan fakultas baru di Surakarta sampai ada pimpinan baru untuk mempersiapkan kepindahan secara bertahap.
   Sementara itu, segenap civitas akademika Fakultas Syari’ah di Pekalongan pada umumnya merasa berat jika dipindahkan ke Surakarta. Karena itu, berbagai usaha untuk mempertahankan eksistensi Fakultas Syari’ah di Pekalongan, terus-menerus dilakukan. Usaha-usaha itu antara lain:
  1. Agar tetap diperkenankan menerima mahasiswa baru, meskipun secara formal sebagai mahasiswa Fakultas Syari’ah Semarang yang ditempatkan di Pekalongan.
  2. Agar para dosen dan tenaga administrasi yang ada tidak dipindahkan, karena masih harus melaksanakan tugas dan melayani mahasiswa.
  3. Mengadakan penggalangan dukungan kepada masyarakat dan Pemerintah Daerah Kodya Pekalongan. Jika keputusan Menteri Agama No.170/1992 tidak dapat ditinjau kembali, masyarakat Pekalongan menghendaki agar di Pekalongan  diusahakan tetap ada Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri lain sebagai penggantinya.
  4. Mengadakan lobi kepada Rektor IAIN Walisongo Semarang dan para pejabat terkait di Departemen Agama Pusat Jakarta.
   Sejak akhir tahun 1994, di Fakultas Syari’ah Pekalongan sudah tidak ada lagi pimpinan fakultas, karena pada awal tahun 1995, pimpinan yang baru, ditempatkan di Fakultas Syari’ah Surakarta. Dengan demikian, di Pekalongan terdapat kekosongan kepemimpinan. Mulai saat itu, segala urusan administrasi akademik ditangani dan menjadi tanggung jawab Dekan Fakultas di Surakarta. Untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab sehari-hari, pelaksanaan kegiatan di Pekalongan dilakukan oleh Dekan Pelaksana Harian (Plh.) yang diangkat oleh Rektor IAIN Walisongo. Ini berarti, secara organisatoris, keberadaan Fakultas Syari’ah Pekalongan sangat lemah (karena secara de jure telah dipindah ke Surakarta, tetapi secara de facto masih berada di Pekalongan), sehingga sangat mempengaruhi kinerja dan pengelolaan organisasi.
   Sementara itu, karena penerimaan mahasiswa (titipan) sangat dibatasi, maka sejak tahun 1992 sampai 1996/1997, jumlah calon mahasiswa mengalami penurunan drastis. Akibatnya, anggaran yang tersedia menjadi sangat kecil. Namun demikian, gaji dosen dan pegawai masih bisa di bayarkan di Pekalongan. Ringkasnya, kehidupan pada masa transisi ini dapat digambarkan sebagai berikut:
  1. Secara de jure, sejak tahun 1992, status Fakultas Syari’ah di Pekalongan tidak ada, karena telah direlokasi ke Surakarta, tetapi secara de facto masih ada, karena kelengkapan personil, sarana dan mahasiswanya masih ada di Pekalongan.
  2. Secara organisatoris, sejak awal tahun 1995, Fakultas Syari’ah di Pekalongan tidak memiliki kelengkapan struktur organisasi dan otoritas kewenangan, karena sudah dipindah ke Surakarta. Akibatnya, di Fakultas Syari’ah Pekalongan terjadi kekosongan kepemimpinan dan situasi tidak menentu. Hal ini mengakibatkan seolah-olah terjadi salah urus antara IAIN Walisongo Semarang dan Fakultas Syari’ah Surakarta. Sebab, untuk sementara waktu kehidupan Fakultas di Surakarta masih dalam tahap embrio yang belum memiliki kelengkapan sarana yang diperlukan.
  3. Keadaan demikian menimbulkan rasa bersalah bagi pimpinan IAIN Walisongo Semarang dan situasi tidak menentu bagi segenap civitas akademika Fakultas Sya’riah IAIN Pekalongan, yang membawa pengaruh pada penurunan etos dan semangat kerja, karena ketidakjelasan nasib dan masa depan mereka
    4.    Kelahiran STAIN Pekalongan
       Seiring dengan usaha yang dilakukan oleh civitas akademika dan stakeholders Fakultas Syari’ah Pekalongan, terbuka wacana baru di kalangan pejabat Departemen Agama untuk menyelamatkan eksistensi fakultas daerah sebagai asset umat dalam rangka pelaksanaan UU Sistem Pendidikan Nasional No. 2 Tahun 1989. Bergulirnya wacana tersebut, menjadikan para pejabat Departemen Agama mengambil kebijakan untuk melakukan perubahan alih fakultas daerah di lingkungan IAIN menjadi STAIN. Kebijakan ini dilakukan, selain agar fakultas daerah dapat berkembang sebagai lembaga tinggi negeri yang mandiri (tidak bergantung pada induknya), juga dalam rangka menata kelembagaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk mewujudkan keinginan ini, sepanjang tahun 1996, Departemen Agama melakukan serangkaian usaha pertemuan dan konsultasi dengan departemen-departemen dan lembaga-lembaga terkait, sementara fakultas daerah mempersiapkan data pendukung yang diperlukan, antara lain: Proposal Rencana Penataan Kelembagaan Pendirian STAIN, Rancangan STATUTA dan Draft Naskah Pengembangan Akademik.
       Setelah persiapan dianggap cukup, maka pada pidato Hari Amal Bhakti (HAB) Departemen Agama, 3 Januari 1997, Menteri Agama menyampaikan langkah-langkah penataan dan pengembangan lembaga tinggi agama Islam di lingkungan IAIN. Langkah kebijakan itu kemudian dituangkan dalam Keputusan Presiden No.11 Tahun 1997, tanggal 21 Maret 1997, tentang pendirian STAIN yang jumlahnya 33 buah di seluruh Indonesia, termasuk di dalamnya STAIN Pekalongan. Adapun peresmian berdirinya STAIN dilakukan secara serentak oleh Menteri Agama RI., dr. H. Tarmizi Taher di Auditorium Departemen Agama Jakarta pada tanggal 30 Juni 1997/25 Shafar 1418 H. 
    5.    Penataan Awal STAIN Pekalongan
    Satu hari setelah peresmian berdirinya STAIN, pada tanggal 1 Juli 1997, di Jakarta, diadakan pelantikan Pejabat Sementara (Pjs) Ketua STAIN. Tugas pokok dari Pejabat Sementara Ketua adalah melakukan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses alih status fakultas daerah menjadi STAIN, meliputi: pengalihan status dosen, pegawai, mahasiswa, dan kekayaan milik Fakultas Daerah yang akan diserahkan kepada STAIN. Setelah diadakan serangkaian pertemuan lima STAIN di Jawa Tengah dan terakhir dengan IAIN Walisongo diperoleh kesepakatan sebagai berikut:
    1. Bahwa semua dosen dan pegawai yang bertugas di Fakultas Syari’ah Pekalongan menjadi dosen dan pegawai STAIN Pekalongan.
    2. Bahwa dosen dan pegawai yang diangkat pada masa transisi-relokasi (1992-1997), yang diberi tugas di IAIN Walisongo Semarang (tetapi usul pengangkatan dan pengabdiannya di Fakultas Syari’ah Pekalongan) serta pegawai yang diperbantukan di Fakultas Syari’ah/Ushuludin Surakarta yang berasal dari Pekalongan, dapat dikembalikan ke STAIN Pekalongan.
    3. Bahwa semua kekayaan (tanah, barang inventaris dan bangunan gedung yang dipakai oleh Fakultas Syari’ah Pekalongan) oleh IAIN Walisongo Semarang diserahkan menjadi milik STAIN Pekalongan.
    4. Bahwa mahasiswa diberi kebebasan untuk memilih menjadi mahasiswa IAIN Walisongo Semarang atau STAIN Pekalongan.
       Pjs. Ketua STAIN diberi tugas mengurus proses penyelesaian administrasi alih status tersebut dalam waktu satu tahun, terhitung setelah peresmian STAIN Pekalongan. Semua alih status pada umumnya berjalan lancar, kecuali alih status pegawai yang bertugas di Semarang mengalami hambatan proses, sehingga mengalami keterlambatan.
      Seperti telah dikemukakan bahwa menjelang kelahiran STAIN Pekalongan, terdapat situasi tidak menentu yang dialami oleh STAIN Pekalongan dan Kudus. Hal ini disebabkan pada saat peresmian, kelembagaan STAIN Pekalongan tidak memiliki struktur kelembagaan yang jelas (vacum), karena terlahir dari situasi kritis akibat kebijakan relokasi ke Surakarta. Sejak tahun 1995, secara resmi struktur organisasi di Fakultas Syari’ah Pekalongan telah ditiadakan, karena telah diangkat pejabat-pejabat baru di Surakarta. Sementara tugas-tugas rutin pelayanan kepada mahasiswa baru STAIN, serta pengelolaan administrasi perkantoran harus berjalan. Maka untuk mengisi kekosongan tersebut dilakukan langkah-langkah sementara dengan berpedoman pada SK Menteri Agama No. 306 tahun 1997 tentang Organisasi dan Tata Kerja STAIN Pekalongan

    biografi Al-Farabi

    BIOGRAFI AL-FARABI
    Nama lengkap Al Farabi adalah Abu Nasr Muhammad bin Muhammad Ibnu Turkhan Ibnu Uzlaq Al Farabi. Dinamai dengan AlFarabi karena dihubungkan dengan Farab, salah satu orang Turki yang terletak di daerah Khurasan dekat dengan sungai Situn (Transoxiana). Dia kelahiran bangsa Turki tetapi mempunyai hubungan darah dengan bangsa Persi. Dia lahir pada tahun 259 H/879 M di Farab dan wafat di Aleppo pada tahun 339 H/950 M. (Dalam Ensiklopedi Islam lahir pada tahn 257 H/870 M dan wafat pada tahun 337 H/950 M, dalam buku Khazanah Intelektual Islam). Ayahnya adalah seorang jendral dan seorang Iran yang menikah dengan wanita Turkistan dan kadang-kadang disebut keturunan Iran.
    Al Farabi selalu berpindah tempat dari waktu ke waktu. Di masa kecilnya ia dikenal rajin belajar dan memiliki otak yang cerdas, belajar agama, bahasa Arab, bahasa turki, dan bahasa Persi di kota kelahirannya, Farab. Setelah besar Al Farabi pindah ke Baghdad dan tinggal di sana sekitar 20 tahun lamanya. Di sana ia memperdalam filsafat, logika matematika, etika, ilmu politik, dan sebagainya. Dari Baghdad Al Farabi pindah ke Harran (Iran). Di sana ia belajar filsafat Yunani kepada beberapa orang ahli, diantaranya Yuhana dan Hailan. Tak lama kemuidian meninggalkan Harran dan kembali lagi ke Baghdad.
    Selama di Baghdad ia menghabiskan waktunya untuk mengajar dan menulis. Al Farabi mengarang buku tentang logika, fisika ilmu jiwa, mwtafisika, kimia, ilmu politik, musik dan lain-lain. Tetapi kebanyakan karyanya yang ditulis dalam bahasa Arab telah hilang dalam peredaran dan diperkirakan tersisa sekitar 30 buah.
    Menurut banyak sumber, ia bisa menguasai 70 bahasa dunia dan karenanya Al Farabi dikenal menguasai banyak cabang keilmuan. Dalam bidang ilmu engetahuan, keahlian yang paling menonjol ialah dalam ilmu mantiq.
    Dalam filsafat AlFarabi tergolong di dalam kelompok filsuf kemanusiaan. Ia lebih mementingkan soal-soal kemanusiaan seperti akhlaq (etika) terhadap intelektual politik dan seni. Dan menurut Prof. Gilson menyatakan bahwa ia amat mencintai tokoh filsafat (Plato & Aristoteles). Filsafat Al Farabi sebenarnya merupakan campuran antara filsafat Aristoteles dan Neo Platonisme dengan pikiran keislaman yang jelas dan aliran Syiah Imamiah. Dalam soal mantiq dan filsafat fisika umpamanya, ia pengikut pemikiran-pemikiran Aristoteles. Sedangkan dalam lapangan metafisika Al Farabi mengikuti jejak Plotinus.
    Al Farabi dapat juga dipandang sebagai pelopor klasifikasi ilmu pengetahuan. Ia membuat klasifikasi ilmu ke dalam tujuh bagian, yaitu : logika, percakapan (ilmi Al lisan), metematika, fisika, metafisika, politik dan ilmu agama.
    Abu Nashr ahli pula dalam bidang ilmu musik. Dialah yang meletakkan dasar-dasar pertama ilmu musik dalam sejarah. Karenanya ia diberi gelar “Guru Pertama” dalam ilmu musik. Musik telah dikenal semenjak zaman Phytagoras. Phytagoras telah membuat ikhtisarnya menjadi beberapa bagian harmoni. Al Farabi berusaha menyempurnakan ilmu musik dan menerangkan di mana kekurangan-kekurangan Phytagoras.
    Selama di Baghdad ia menghabiskan waktunya menulis karya-karyanya :
    • Agrad Al Kitab Ma Ba’da At Tabi’ah (Intisari buku Metafisika)
    • Al Jam’u Baina Ra’yai Al Hakimaini (mempertemukan dua pendapat filsuf : Plato dan Aristoteles)
    • ‘Uyun Al Masa’il (Pokok-pokok Persoalan)

    Pikiran-pikiran Pendidikan Kota
    • Ihsa’ Al Ulmu
    • Al madinatul Fadlilah (Negeri Utama)
    • Risalah Assiyassiyah
    • Assaamarotul Mardliyayah
    • Al Majau

    Dalam bidang fisika :
    • On Vacum
    • Against Astrology

    Dalam bidang Metafisika :
    • About the Scope of Aristoteles Metaphysizs
    • On the one (Fi Al Wahid dan Wahda)

    IDE POKOK PEMIKIRAN AL FARABI
    Dalam buku Al Farabi yang berjudul Risalah Fisiyah, seperti yang dikutip oleh Oemar Amin Husain, mengatakan bahwa :
    1.        Anak Membawa Sifat Baik dan Buruk dan kemampuan itu.
    Anak-anak berbeda pembawaannya satu sama lain. Oleh karena itu apa yang diajarkan harus disesuaikan dengan perbedaan pembawaan dan kemampuan itu. Karena diantara anak-anak yang berwatak buruk itu akan dipergunakannya untuk tujuan perbuatan-perbuatan buruk, maka seharusnya pendidikan membawa mereka ke dalam pembinaan. Pemberian pelajaran yang mungkin dipergunakannya untuk tujuan buruk, hendaknya dicegah secepat mungkin dengan pendidikan akhlaq.
    2.        Melakukan Pembinaan Diri (Tafakur)
    Pembinaan diri pribadi ke arah jalan yang terbaik yaitu agar mengadakan hal ikhwal kepada masyarakat, bangsa-bangsa dan pekerja-pekerja merekaserta hal ikhwal pejabat-pejabat pemerintah dari mereka baik langsung disaksikannya atau tidak langsung dari apa yang didengarkannya dan lalu ia memperhatikan sungguh-sungguh dan menganalisis semua yang diketahuinya itu dan mengklasifikasikan antara kebaikan dan keburukannya antara yang bermanfaat dan madhorot terhadap mereka. Sesudah itu hendaklah ia berijtihad sungguh-sungguh untuk mengambil mana kebaikannya. Untuk memperolehnya dan hendaklah ia bersungguh-sungguh pula menghindari mana yang buruk, agar ia aman dari kemudhorotnya dan selamat dari malapetaka sebagaimana bangsa itu selamat. Dari pernyataan di atas dapat dipahami pendapat Al Farabi bahwa kriteria kebaikan dapat diangkat dari sejarah pengalaman manusia.
    3.        Anak Berbeda dalam Pemahaman/Kecerdasan
    Di antara anak ada pula yang lemah kecerdasannya, yang sulit untuk dikembangkan. Kepada anak golongan ini diberikan mata pelajaran yang sesuai dengan kondisi mereka. Namun banyak pula dari anak-anak itu punya ahlaq yang luhur, pribadi yang baik, kepada mereka inji haruslah diberikan pendidikan dan pengajaran sebanyak-banyaknya sesuai dengan bakat pembawaan mereka.
    4.        Kekuatan Jiwa Manusia
    Al Farabi membagi kekuatan-kekuatan jiwa ke dalam beberapa bagian :
    ·          Kekuatan-kekuatan gizi (Quwwatul ghariyah)
    Dengan kekuatan ini manusia menghisap makanan (gizi)
    ·          Kekuatan-kekuatan Indrawi (Quwwatul Hassah)
    Kekuatan indrawi timbul setelah kekuatan gizi. Dengan kakuatan indrawi manusia sanggup mengindra. Kekuatan pengindraan mempunyai sentral dan cabang-cabang yang disebut panca indra, dan otak sebagai sentral yang bertugas menghimpun seluruh apa yang ditangkap panca indra seutuhnya.
    ·          Kekuatan imajinasi (mutakhayyilah)
    Berfungsi menyimpan dan memelihara segala yang diterima alat-alat indrawi
    ·          Kekuatan nathiqoh
    Dengan daya ini seseorang dapat berpikir tentang hal-hal yang abstrak, membentuk pengertian-pengertian atau dengan kata lain dapat membuat keputusan yang mantap.
    METODE AL FARABI
    Untuk menjadi seorang yang punya nama di mata dunia tentulah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia harus menempuh perjalanan panjang yang tidak mulus, banyak rintangan di sana-sini. Untuk memperoleh jati diri yang sebenarnya. Melihat dari biografi dan status sosial, yang mana di masa kecilnya ia sudah terlihat kecerdasannya tetapi karena Al Farabi tak menuliskan riwayat hidupnya, sehingga informasi tidak terlalu memadai, namun hal itu masih dapat kita ketahui keluarga masa kanak-kanak dan masa remajanya. Dalam kehidupannya ia selalu berpindah tempat tinggal dari waktu ke waktu untuk memperoleh pengetahuan yang tidak dapat ia temukan hanya pada satu tempat, dan hal ini juga didorong karena ia tertarik dengan studi rasional, yang tidak diperoleh di kota kelahirannya, sehingga ia meninggalkan rumah dan mengembara menuntut ilmu pengetahuan. Oleh karena itu penulis menilai bahwa proses untuk menjadi seorang yang besar “Al Farabi”, ia mensosialisasikannya dengan metode paripatetik atau perjalanan ilmiah yaitu “orang yang suka berkeliling".
    Berangkat dari metode Al Farabi, maka teori yang digunakannya adalah analitic generatif yaitu menguraikan sesuatu yang bersifat umum. Hal ini dapat kita lihat dalam perjalanannya tersebut, yaitu pada masa Amir Saifullah. Al Farabi adalah seorang yang tajam tanggapannya. Sifat ini terbukti ketika para pakar dalam pelbagai ilmu pengetahuan sedang berdiskusi, dalam diskusi tersebut ia selal mengatasi pendapat anggota-anggota lain, hingga pada akhirnya anggota yang lain diam semuanya. Tinggallah dia berbicara sendirian, sedang anggota lainnya mencatat apa yang ia ucapkan.
    TEORI AL FARABI
    Berangkat dari metode Al Farabi, maka teori yang digunakannya adalah analitic generatif yaitu menguraikan sesuatu yang bersifat umum. Hal ini dapat kita lihat dalam perjalanannya tersebut, yaitu pada masa Amir Saifullah. Al Farabi adalah seorang yang tajam tanggapannya. Sifat ini terbukti ketika para pakar dalam pelbagai ilmu pengetahuan sedang berdiskusi, dalam diskusi tersebut ia selal mengatasi pendapat anggota-anggota lain, hingga pada akhirnya anggota yang lain diam semuanya. Tinggallah dia berbicara sendirian, sedang anggota lainnya mencatat apa yang ia ucapkan.
    SETTING SOSIAL AL FARABI
    Berbeda dengan kelaziman beberapa sarjana muslim lainnya Al Farabi tidak menuliskan riwayat hidupnya, dan tidak seorangpun para pengikutnya merekam kehidupannya, sebagaimana yang dilakukan Al Jurjani untuk gurunya, Ibn Sina. Oleh karena itu mengenai kehidupan Al Farabi masih terdapat kesamaran dan beberapa masalah yang masih perlu diteliti dan dituntaskan.
    Kehidupan Al Farabi dapat dibagi menjadi dua periode, yang pertama dari sejak lahir sampai ia berusia 50 tahun. Dengan informasi yang tidak memadai ini, kita dapat engetahui kaluarganya, masa kanak-kanaknya, dan masa remajanya. Telah diyakini bahwa ia lahir sebagai orang Turki, ayahnya seorang jendral, dan ia sendiri bekerja sebagai hakim untuk beberapa lama. Al Farabi tinggal di Baghdad pada masa kholifah Abbasiyah “Al Muktadir” (950).
    Pada awal abad ke 3 H/9 M di Farab berlangsung kebudayaan dan pemikiran yang meluas bersama dengan pengenalan Islam, dan pada saat itu terkenal pula seorang ahli bahasa Al Jauhari, yang telah menulis buku “Al Shiha”, salah seorang yang sezaman dengan Al Farabi.
    Pendidikan dasarnya ialah keagamaan dan bahasa, ia mempelajari fiqh, hadits dan tafsir Al Qur’an. Ia mempelajari bahasa Arab, Turki, dan Persia, ia tidak mengabaikan manfaat yang dapat diperoleh dari studi-studi rasionnal yang berlangsung pada hidupnya, seperti matematika dan filsafat, meskipun tampaknya ia tidak berpaling keduanya sampai kemudian. Dan ketika ia demikian tertarik dengan studi rasional, ia tidak puas dengan apa yang doperolehnya di kota kehadirannya, terdorong oleh keinginan intelektuaqlnya itu maka ia meninggalkan rumahnya dan mengembara menuntut ilmu pengetahuan.
    Periode kedua kehidupan Al Farabi adalah periode usia tua dan kematangan penuh. Baghdad sebagai pusat belajar yang terkemuka pada abad ke 4 H/10 M, merupaka tempat yang pertama yang dikunjunginya, di sana ia berjumpa dengan sarjana dari berbagai bidang, diantaranya pada filosof dan penerjemah. Ia tertarik untuk mempelajari logika, dan diantara ahli-ahli logika terkenal dari Baghdad, Abu Bisyr Matta Ibn Yunnus-lah yang dipandang orang sebagai ahli logika paling terkemuka pada zamannya. Untuk beberapa lama Al Farabi belajar logika kepada Ibn Yunnus. Ia mengungguli gurunya, dan karena pencapaiannya yang gemilang di bidang ini, ia memperoleh sebutan “Guru Kedua”.
    Al Farabi bermukim 10 tahun di Baghdad dan kemudian tertarik oleh pusat kebudayaan lain di Aleppo. Di sana tempat-tempat orang brillian dan para sarjana, istana Saif Al Daulah, berkumpul para penyair, ahli bahasa, filosof, dan sarjana kenamaan lainnya. Meski ada simpati kuat keakraban dari istana tersebut, namun tidak ada rasa ke-ras-an atau prasangka di dalamnya orang-orang Persia, Turki, dan Arab berdiskusi dan berdebat, sepakat atau berbeda pendapat tanpa mencari keuntungan pribadi dalam menuntut ilmu pengetahuan. Di istana tersebut Al Farabi tinggal, dan merupakan orang pertama terkemuka, sebagai sarjana dan pencari kebenaran, kehidupan yang gemerlapan dan megah di istana itu tidak mempengaruhinya, dan dalam pakaian sufi ia membebani dirinya dengan tugas berat seorang sarjana dan pengajar. Ia menulis buku-buku dan artikel-artikel dalam suasana gemercikan air sungai dan di bawah dedaunan pepohonan yang rindang.
    Kecuali beberapa perjalanan singkatnya ke luar negeri, Al Farabi bermukim di Syiria hingga wafat pada tahun 339 H/950 M. Ibnu Usaibi’ah menyebutkan bahwa Al Farabi mengunjungi menjelang akhir hayatnya. Hal ini mungkin karena Mesir dan Syiria mempunyai hubungan yang kuat di sepanjang rentangan sejarah yang cukup panjang dan kehidupan kebudayaan Mesir pada masa Thutunniyah dan Ikhsyidiyyahmemang mempunyai pesona.  Tetapitersiarnya kabar tetangga terbunuhnya Al Frabi oleh beberapa perampok dalam perjalanannya antara Damaskus Asgalansebagaimana dikutip Al Baihaqi adalah rekaan belaka. Al Farabi mencapai posisi yang sangat terpuji di Istana Saif Al Daulah, sampai-sampai sang raja bersama sang pengikut dekatnya mengantarkan jenazahnya ke pemakamannya sebagai penghormatan atas kematian seorang sarjana terkemuka.

    Artikel Pendidikan- Pentingnya Semangat Belajar

    Untuk menambah wawasan bagi yang bekerja di sektor pendidikan, membaca beberapa contoh artikel pendidikan menjadi pilihannya. Apalagi dengan kemajuan teknologi saat ini telah membawa kemudahan untuk kita mencari informasi termasuk juga masalah di dunia pendidikan. Tidak hanya para pendidik, orang tua murid pun kini juga membutuhkan pengetahuan tersebut. Pesatnya perkembangan di bidang pendidikan sering kali membuat orang tua siswa bingung dengan perubahan drastis itu. Karena kebanyakan dari mereka merasa pendidikan saat ini sangat berbeda dengan pendidikan di zaman mereka. 


    Banyak topik yang dibahas di beberapa contoh artikel pendidikan. dari banyaknya topik yang dibahas, pembaca paling suka untuk menikmati ulasan artikel pendidikan yang berkaitan dengan pendidikan anak, masalah pendidikan di Indonesia, model pembelajaran inovatif, strategi belajar mengajar, serta teori-teori terbaru di bidang pendidikan.

    pendidikan Indonesia
    Jika saat ini Anda sedang mencari contoh artikel pendidikan yang berkaitan dengan aktivitas anak didik, berikut ini contoh yang tepat untuk Anda jadikan bacaan di waktu senggang. Semoga dengan bacaan ini dapat membuka wawasan Anda mengenai semangat belajar anak dan hal-hal lainnya.

    Contoh Artikel Pendidikan – Tips Menumbuhkan Semangat Belajar Anak
    Pada dasarnya manusia merupakan makhluk pembelajar. Sebagai contoh, bayi di masa petumbuhannya akan mengalami proses miring, tengkurap, merangkak, berjalan dan akhirnya berlari. Hal ini semua bisa mereka lalui karena mereka belajar untuk bisa melakukannya. Tidak ada orang yang memberikan pelajaran bagaimana cara merangkak, atau cara berdiri. Ketika waktunya sudah tiba, maka anak akan belajar sendiri untuk melakukannya.

    Pada masa-masa pertumbuhannya, orang tua atau orang-orang terdekat, sering melarang bayi ketika memegang sesuatu. Seperti contoh ketika bayi di usia satu tahun, mereka sering memasukkan barang ke mulutnya. Atau ketika mereka melihat sebuah benda, dan mereka ingin memegangnya, orang tua sering melarang anak melakukannya. Sayangnya banyak yang tidak menyadari cara mereka melarang anak keliru, seperti membentak dan memberikan alasan yang tidak jelas. Akibat dari perilaku keliru ini bisa saja membuat anak malas untuk belajar ke depannya. Ketika anak memasuki usia sekolah, anak sangat susah untuk diajak belajar mengenal huruf dan angka atau belajar hal-hal lainnya.

    Anehnya ketika anak ditanya masalah apa yang mereka senangi, mereka akan menjawab dengan antusias. Sebagai contoh jika dia suka dengan permainan sepakbola dan menyukai salah satu klub, mereka akan menjawab dengan lantang. Bahkan mereka sangat hafal dengan apa yang berkaitan dengan klub tersebut baik nama pemain, nomor punggung, bahkan pelatihnya.
    Dengan bukti tersebut, bisa disimpulkan bahwa anak tidaklah bodoh. Anak dilahirkan dengan kemampuan otak yang sama sehingga tidak ada kata anak bodoh dan pintar. Hanya saja perlakuan yang keliru ketika anak dalam masa pertumbuhan seperti yang digambarkan di ataslah yang membuat anak menjadi malas belajar. Lalu bagaimana menumbuhkan semangat belajar pada anak dengan kondisi seperti ini? Ada beberapa tips yang dapat Anda lakukan untuk membuat anak menjadi pribadi yang rajin dalam belajar.

    Dimulai dari Orang Tua
    Tidak dipungkiri bahwa waktu seorang anak banyak dihabiskan dengan orang tuanya terutama sang ibu. Jadi Anda sebagai orang tua harus memulai mengubah hal-hal buruk yang mungkin bisa menjadi contoh yang kurang baik untuk anak. Contohnya, Anda meminta mereka untuk belajar tapi Anda malah asyik melihat sinetron. Tidak mungkin anak akan memiliki semangat belajar karena Anda sudah memberi contoh yang kurang baik. Hindari juga memerintah dengan kata yang kasar atau kekerasan fisik seperti mencubit. Hal itu bukan memberikan efek baik tapi anak malah trauma dan membuatnya menjadi pribadi yang pendiam dan tidak percaya diri.
    Ajaklah anak untuk belajar dengan cara yang baik. Lebih baik lagi jika Anda mendampinginya dan mengajarkan dengan cara yang menyenangkan. Di usia ini, anak masih dengan dunia permainan. Cobalah untuk mengajak mereka belajar tapi dibalut dengan permainan. Sehingga mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang belajar melainkan sedang bermain.

    Tanya Aktivitasnya di Sekolah
    Ketika anak pulang dari sekolah, cobalah tanyakan apa aktivitas yang membuat dia senang ketika di sekolah. Otomatis anak akan bercerita mengenai kegiatan apa saja yang membuatnya senang hari itu. Dengan mengajak anak bercerita hal-hal positif ini, akan menanamkan ke jiwa anak bahwa sekolah merupakan tempat yang menyenangkan.
    Selain itu, mengajak mereka bercerita juga membuat daya ingat mereka cukup bagus. Bisa jadi dengan aktivitas bertanya yang cukup simpel ini, membuat anak memiliki hobi bercerita. Tidak hanya bercerita kepada Anda dan keluarga, mereka bisa bercerita di hadapan banyak orang. Hal ini bisa menumbuhkan bakat anak yang dapat membuat mereka menjadi anak yang percaya diri dan tidak minder.

    Sugesti Positif
    Sugesti positif yang diberikan kepada anak, saat mereka tidur adalah waktu yang tepat. Ketika anak akan tidur, biasanya ibu akan membacakan cerita terlebih dahulu. Ketika anak sudah terlelap di alam mimpi, bisikkan di telinga mereka bahwa belajar merupakan kegiatan yang menyenangkan, tidak kalah menyenangkan dengan aktivitas bermain. Sugesti ini memang diberikan kepada anak dalam posisi tidur. Tapi kata-kata yang dibisikkan ini dapat direkam oleh otak dan masuk ke dalam lubuk hati yang paling dalam. Apalagi mengucapkannya dengan penuh kasih sayang, maka tanpa mereka sadari sugesti itu masuk ke dalam alam bawah sadarnya.
    contoh artikel pendidikan
    Sugesti ini juga bisa diberikan ketika anak dalam keadaan sadar. Ketika anak membuat sesuatu, berilah mereka pujian. Misalnya ketika dia menggambar, katakan dengan antusias bahwa gambar mereka bagus. Meskipun gambarnya hanya sekumpulan garis tak berbentuk, dengan memberikan pujian itu anak akan merasa dihargai apa yang mereka lakukan. Penghargaan itu akan membuat anak memiliki rasa percaya diri. Jika anak memberikan hasil gambarnya dan Anda mengatakan dengan sedikit kasar gambar apa ini, bisa jadi mereka akan menjadi pribadi yang pemalu dan minder untuk tampil di depan orang.

    Pelajaran dan Kegunaannya
    Ketika mereka belajar sesuatu, jelaskan bahwa ilmu yang mereka pelajari memiliki kegunaan untuk hidupnya. Seperti belajar menghitung, bisa membuat anak menghitung jumlah mainan yang mereka miliki. Ketika belajar bahasa Inggris, mereka tidak perlu kebingungan mengerti apa maksud sebuah percakapan ketika melihat film kartun kesukaan mereka. Dengan memberikan gambaran kegunaan dari sebuah pelajaran, maka semangat sang anak dalam belajar dapat mengalami peningkatan hari demi hari.

    Baca Juga pinjaman KTA untuk biaya pendidikan anak, simak di : KTA
    Beri Penghargaan
    Poin ini hampir sama dengan pemberian sugesti ketika anak dalam kondisi sadar. Ketika anak melakukan apapun, berikanlah penghargaan. Misalnya kalimat “kamu hebat” dengan nada bangga. Jika mereka melakukan kesalahan seperti nilai yang buruk, hindari untuk langsung memarahinya. Berikan pengertian bagaimana kalau nilai mereka terus buruk. Pembicaraan dari hati ke hati, akan membuat anak merasa dihargai dan merasa nyaman untuk berbicara kepada orang tua. Karena banyak anak yang tidak mau bercerita kepada orang tuanya disebabkan oleh orang tua tidak memberikan rasa nyaman untuk mereka.
    Demikian contoh artikel pendidikan yang membahas tentang semangat balajar pada anak. Semoga dapat memberikan manfaat untuk semuanya.

    Sabtu, 21 Mei 2016

    proposal skripsi



    TUGAS
    PROPOSAL SKRIPSI
    Disusungunamemenuhitugas :
    Mata Kuliah                : Metodologi Penelitian Pendidikan
    DosenPengampu         : Dr. H. Imam Suraji, M.Ag




    Disusun Oleh:
    Muchamad Sakir                     (2021113112)

    KelasA
    JURUSAN TARBIYAH PAI
    SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
    PEKALONGAN
    2016
    Peran Masjid SebagaiPusatPendidikan Agama Islam
    (Study Kasus Masjid Jami’ Mambaul Huda DesaWinduajiKecamatanPaninggaranKabupatenPekalonan)
    A.    LatarBelakang
    Masjid adalahtempatsuciparahamba Allahuntukmengerjakanshalatlimawaktu, ibadah yang berhubunganlangsungdenganTuhannya. Selainsebagaitempatibadahkepada Allah,  Masjidjugadapatberfungsisebagaitempatpendidikandankeiatansosiallainnya. Fungsi masjid yansemacamituperluterusdikembangkandenganpengelolaanyangbaikdanteratur sehingga dari masjid lahir insan-insan muslim yang berkualitas dan masyarakat yang sejahtera.
    Sebagai umat islam yang baik tentu kita tidakingin kehilangan momen agung ini. Namun demkian kita juga tidak bisa memungkiri bahwa tidak semua muslim tahu apa saja yang dapat diperbuatnya terhadap masjid, dan ketika berada di masjid dlam rangka memaksimalkan manfaat dunia akhiratnya.
    “fungsi masjid adalah tempat sujud kepada Allah SWT, tempat shalat dan tempat beribadah kepada-Nya”
    Masjid juga merupakan tempat yang paling banyak dikumandangkan nama Allah melalui adzan, iqamat, tasbih, tahmid, tahlil, istighfar dan ucapan lain yang dianjurkan dibaca di masjid. Sebagai bagia dari lafadz yang berkaitan dengan penggunaan asma Allah.
    Winduaji satu merupakan suatu desa yang berada diwilayah paling selatan kabupaten pekalongan, lebih tepatnya desa yang berrda di kecamatan paninggaran. Keberadaan desa winduaji 01 merupakan suatu daerah yang cukup jauh dari keramaian ibu kota, selain itukerena daerahnya berada pada dataran tinggi, keberadaan masjid bagi masyarakat merupkan salah satu sarana yang selalu dikunjungi umat islam untuk melakukan shalat jamaah. Selain itu keberadaan masjid ini juga sebagai wahana lembaga pendidikan yang bersifat nonformal dalm pengamalan ajaran agama islam. Antusias masyarakat untuk beribadah di masjid Jami mambaul Huda winduaji 01 mendorong pengurus masjid untuk dapat mencukupi kebutuhan bergama bagi masyarakat melalui kgiatan-kegiatan keagamaan selain itu memberikan pemahaman keberagamaan sekaligus untuk mempotensikan kemampua yang dimiliki masyarakat winduaji 01 untuk ikut berpartisipasi dalam pengemabngan agama islam di daerahnya.\
    Berangkat dari problematika diatas, peneliti inigin mengetahui bagaimana peran masjid terhdap kegiatan pendidikan agama islam di masjid Jami’ Mamabaul Huda dalam rangka pencapaian predikat khairo ummatin.
    B.     Rumusan Masalah
    1.      Bagaimana kegiatan-kegiatan keagamaan di masjid jami’ Mambaul Huda Desa Winduaji Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan?
    2.      Faktor-Faktor apa saja yang menunjang dan menghambat kegiatan-kegiatan keagamaan di Masjid Jami’ Mambaul Huda Desa Winduaji kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan?
    3.      Bagaimana Respon masyarakat Desa Winduaji Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan terhadap kegiatan keagamaan di Masjid Jami’ Mambaul Huda?
    C.    Tujuan Penelitian
    1.      Untuk menjelaskan dat tentang kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di Masjid Jami’ Mambaul Huda Kecamatan Paninggaran Kbupaten Pekalongan.
    2.      Untuk Menjelaskan faktor penunjang dan faktor penghambat terhadap respon masyarakat Winduaji 01 terrhadap kegiatan keagamaan di Masjid Jami’ Mambaul Huda kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan.
    3.      Untuk menjelaskan hasil yang dicapai dalam peran Masjid sebagai pusat pendidikan di desa Winduaji 01 kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan.
    D.    Kegunaan Penelitian
    Kegunaan dalam peneltian ini yaitu antara lain:
    1.      Secara teoritis, bagi peneliti menambah pengetahuan dan wawasan tentang perang masjid sebagai pusat pendidikan.
    2.      Secara praktis, hasil penelitian dapat memberikan pemahaman dan masukan tentang peran Masjid sebagai pusat pendidikan di Desa Winduaji Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan.
    E.     Tinjauan Penelitian
    1.      Analisis Teori dan Kajian Penelitian yang Relevan
    Perintah memakmurkan Masjid secara jelas difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an :
    إِنَّمَايَعْمُرُمَسَٰجِدَٱللَّهِمَنْءَامَنَبِٱللَّهِوَٱلْيَوْمِٱلْءَاخِرِوَأَقَامَٱلصَّلَوٰةَوَءَاتَىٱلزَّكَوٰةَوَلَمْيَخْشَإِلَّاٱللَّهَفَعَسَىٰٓأُو۟لَٰٓئِكَأَنيَكُونُوا۟ مِنَٱلْمُهْتَدِينَ
    Artinya: ”Hanyalah yang memakmurkan Masjid-Masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunakan zakat dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepad Allah maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S. At-Taubah :18)
    Kata masjid diulang sebanyak 28 kali di dalam Al-Qur’an. Dari segi bahasa, kata tersebut diambil dari akar kata sajada-sujudan, yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat, meletakan dahi, kedua tangan lutu, dan kaki ketanah yang kemudian dinamai sujud oleh syariat adalah bentuk lahiriyah yang paling nyata dari maka diatas.
    Itulah sebabnya mengapa bangunan yang khusus digunakan unutuk melaksanakan shalat dinamakan masjid, yang artinya “temapat bersujud” (Budiman Mustofa, Manajemen Masjid, cet ke-2, (Surakarta : Ziyad Visi Media,2008), hlm 19)
    Dalam Al-Qur’an Masjid diungkapkan dalam dua sebutan. Pertama, “Masjid” suatu sebutan langsung menunjuk kepada pengertian tempat peribadatan umat islam yang sepadan dengan sebutan tempat-tempat peribadatan agama-agama yang lainya (Q.S. 22: 40). Kedua, “Bayt” yang juga menunjukan kepda dua pengertian, pertama tinggal sebagaimana rumah untuk manusia atau sarang untuk binatang. (M. Quraish Shihab, wawasan Al-Qur’an. Cet ke-2(Jakarta: Mizan, 1996),hlm 463)
    Hanum Asrohah dalam bukunya sejarah penidikan islam menyatakan bahwa masjid merupakan lembaga pendidikn islam yang sudah ada sejak zaman nabi.” Ia mempunyai peran penting bagi masyarakat islam sejak awal sampai sekarang. Masjid berfungsi sebagai tempat bersosialisasi, tempat ibadah dan sebagainya, tetapi yang lebih penting adalah sebagai lembaga pendidikan.(Hanum Asrohah, sejarah pendidikan Islam,(Jakarta: Logos, 1999),hlm 36)
    Dalam sekripsinya Ulya Ruslina Nim 23204073, Alumnu STAIN Pekalongan, yang berjudul “ aktualisasi fungsi masjid sebagai institusi Pendidikan Agama Islam.” Menjelaskan bahwa dalam perkembangannya menjawab tentangan zaman, funsi dan peran masjid pada zaman sekarang kembali melanjutkan visi yang pernah dibawa pada zaman Rasululloh SAW serta zaman kejayaan umat Islam, fungsi dan peran masjid tidak sebatas Hablumminallah namun, juga perosalan Hablumminannas. Fungsi dan peran masjid lebih berkembang , disamping sebagai temapat ibadah shalat, pengajian dan pembinaan mental dan akhlak umat, juga digunakan untuk aktifitas kemasyaratakat seperti untuk baitul mal, musyawarah dan majelis diskusi, bahkan sebagai pusat pembinaan karakter dan fisikumat melalui berbagai pelatihan-pelatihan pembinaan mental fisikal dan lain sebagainya.
    Sedangkan dalam skripsi lain dari Muchamad Jama’ Arif Nim 05110014 Alumnus UIN Maulan Malik Ibrahim Malang, yang berjudul “ pemberdayaan masjid sebagai sarana pendidikan Islam bagi Siswa di Madrasah aliayah Negeri 3 Malang. Mengemukakan bahwa memahami masjid secara universal berarti juga memahaminya sebagai sebuah instrumen sosial masyarakat islam yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Islam itu sendiri. Keberadaan Masjid pada umumnya merupakan salah satu perwujudan aspirasi umat islam sebagai temapat ibadah yang menduduki fungsi sentral, mengingat fungsinya yang strategis, maka perlu dibina sebaik-baiknya, baik dari segi fisik bangunan maupun dari segi kegiatan pemakmurannya. Melalui pemahaman ini muncul sebuah keyakinan bahwa masjid menjadi pusat dan sumber perdaban islam melalui masjid pula, kaderisai generasi muda dapat dilakukan melalui proses pendidikan Islam yang bersifat kontinyu untuk pencapaian kemajuan, sehingga pendidikan agama tidak cenderung mengedepankan aspek kognisi saja, maelainkan ada aspek afeksi dan psikomotorik.
    F.     Kerangaka Berfikir
    Kerangka fikir merupaka teori yang telah dikembangkan yang dapat mendasari perumusan Hipotesis. Teori yang telah dikembangkan dalam rangka memberi jawaban terhadap pendekatan pemecahan masalah yang menyatakan hubungan anarat variabel berdasarkan pembahasan teoritis.
    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa secara umum masjid yang akar katanya mengandung arti tunduk dan patuh, memilki pemaknaan yang lebih luas. Masjid selain berfungsi memenuhi keperluan ibadah Islam, fungsi dan peranannya ditentukan oleh lingkungan temapt dan jamaah dimana masjid itu didirikan. Secara prinsip masjid adalah temapat membina umat yang meliputi penyambung ukhuwah, wadah musyawah umat, serta pembinaan dan pengembangan masyarakat.
    Dalam penelitian ini, peneliti berusaha untuk mengetahui bagaimana peranan masjid sebagai pusat pendidikan dalam program pemberdayaan masyarakat Desa Winduaji Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan. Sehingga dengan pemberdayaan tersebut menamabh nilai plus tersendiri bagi masjid tersebut dan juga menambah kepercayaan terhadap masjid itu sendiri dan juga masyarakat biasa merasa terayomi dengan keberadaan masjid tersebut.
    Berdsarkan berbagai teori tersebut, dapat dirumuskan model konseptual kerangka berfikir sebgai berikut:


     



    G.    Metode Penelitian
    1.      Pendekatan dan Jenis Penelitian
    Pendekatan yang dipakaidalampenelitianiniadalahpendekatankualitatif, yaknisebuah proses penyelidikanuntukmemahamimasalahsosialataumasalahmanusia, berdasarkanpadapenciptaangambarholistik yang dibentukdengan kata-kata, melaporkanpandanganinformansecara
    Jenispenelitianiniadalahpenelitianlapangan, karenapenelitiandilakukan di lingkunganmasyarakatdan masjid, dan data yang ditelitiadalahkualitatif, yaknipenelitian yang menghasilkandata  deskriptifberupa kata-kata tertulisataulisandari orang-orang danprilaku yang dapatdiamati.
    2.      Populasi dan Sampel Penelitian
    Tempat Penelitianiniadalah masjid Jami’ Mambaul Huda desaWinduajiKecamatanPaninggaranKabupatenPekalongan. Adapun yang menjadisubjekpenelitiandalampenelitianiniadalah, ketuatakmir masjid jami’ mambaulhuda , imam rawatib, sebagianjama’ah masjid, anggotatakmir masjid dansemuapihak yang terkaitdenganpelaksanaanpembinaanumat.
    3.      Teknik Pengumpulan Data
    Pengumpulan data adalahberbagaicara yang digunakanuntukmengumpulkan data,  menghimpun, mengambil, ataumenyaring data penelitian. Untukmengumpulkan data yang dibutuhkanpenulismenggunakanmetodepengumpulan data sebagaiberikut:
    a.  MetodeWawancara (interview)
    Metodewawancaraadalahbentukkomunikasiantaradua orang ataulebih, melibatkan orang yanginginmemperolehinformasidari orang lain denganmengajukanpertanyaan-pertanyaanberdasarkantujuantertentu.
    b.  Observasi (pengamatan)
    Menggunakanmetodeobservasiberartimemggunakanmatadantelingasebagaijendalauntukmerekamsebagaipengambilan data dengancarapemungutandanpencatatandengansistematisfenomena-fenomena yang diselidiki.
    c.  Dokumentasi
    Metodedokumentasiadalahcatatanpengumpulan data untukmemperolehkejadiannyatatentangsituasisosialdanartiberbagaifaktor di sekitarsubjekpenelitian
    4.      Teknik Analisis Data
    Setelah data terkumpulmakalangkahselanjutnyaadalahmenganalisis data untukmemperolehkesimpulan.Dalamanalisisdata  inipenelitimenggambarkanfenomena-fenomena yang adapadasaatiniatausaat yang lampau, dariseluruh data hasilobservasi, wawancaradandokumentasi.
    Analisisdilakukandengancaradeskriptifkualitatifyaknimenggambarkanataumendeskripsikan data-data yang terkumpulberupa kata-kata, denganpolapendekataninduktif. Pendekataninduktifyaitusuatucaraberfikir yang berangkatdarifakta-faktaatauperistiwa-peristiwakhususkemudianditarikgeneralisasi yang bersifatumum.


    DAFTAR PUSTAKA